Jumat, 20 Juli 2018

Belajarku Masa Kecil

Tempat belajarku:
1. Pondok al-Qur`an; tempat belajar membaca al-Qur`an semasa kanak-kanak hingga kelas 6 SD. Di bawah bimbingan Kyai Abdul Hadi (putera menantu K.H. Syathibi yang terkenal di bidang Qira`ah al-Qur`an) saya bisa membaca al-Qur`an dengan baik hingga mampu mengkhatamkan. Semoga amalnya memperoleh imbalan dari Allah kebaikan sejumlah huruf al-Qur`an.
2. SD Serangan; ketika itu belum ada SD Negeri Serangan 02,
3. SMP PEMDA Bonang; kini lembaga pendidikan yang berada di sebelah utara pertigaan Jatirogo jurusan Wedung tersebut telah tiada.
4. Pontren As-Syarif di bawah asuhan K.H. Nawawi 'Ali.
5. MA NU Raudlatul Mu'allimin Wedung. madrasah dipimpin oleh Ytm. al-Ustadz Drs. H. Noor Cholish. di madrasah ini saya sering memperoleh punishment dari Kepala Madrasah maupun guru. Saya pernah direst di halaman madrasah oleh Bapak Wakamad Kurikulum karena bersama-sama teman-teman sering meninggalkan pelajaran Bahasa Inggris ketika duduk di bangku kelas satu. Apalagi Guru Matematika, tidak jarang memberiku warning karena saya tidak pernah mengerjakan PR. Hampir dipastikan saya tidak pernah membawa buku ke madrasah kecuali satu buku merk Banteng bersampul ungu, apalagi buku bacaan. Yang membanggakan, saya menerima hadiah seragam Putih dan abu-abu pada setiap akhir semester, karena ranking I kecuali pada semester IV. di Madrasah ini saya juga diberi amanat memimpin OSIS meski tidak disukai oleh banyak guruku karena sering mBOLOS sekolah. Masih teringat sebagai kenangan nakalku, saya bersama-sama dengan beberapa teman panitia Class-meeting dikejar-kejar Bapak Wakamad Kesiswaan karena kami keliling madrasah membawa MEDALI KERUPUK sebagai tanda kemenangan sekaligus protes ketika kelas kami sebagai juara Umum. Saya juga sering diundang untuk ceramah (ngaji), baik untuk kalangan remaja maupun umum). karena itulah namaku menjadi dikenal masyarakat luas, tidak hanya di desaku yang jauh dari keramaian dan kemajuan.
6. Pontren AL-IBRIEZ; di sini saya mempelajari ilmu NAHWU dan SHARAF serta dasar-dasar ilmu fiqh di bawah pengasuhan Ytm. K. A. Hamdan Mansyur sejak kelas tiga SMP hingga kelas dua MANU. di saat duduk di kelas dua MA saya diminta oleh teman-teman terutama para santri senior, untuk mengajarkan ilmu sharaf karena ilmu ini belum pernah diajarkan sec. khusus di pontren ini kec. pada kegiatan balagh (posonan) di bulan Ramadlan. Setelah mereka mendpt restu Kyai, maka permintaan saya penuhi. Manakala memasuki kelas tiga MA saya meninggalkan al-Ibriez meskipun tetap mengajar di sini.
7. Pontren Raudlatus Salikin; di pondok yang diasuh oleh Syekh K.H. Ali Mukarrom ini saya adalah santri pertama. Belum mencapai dua bulan santri yang nimbrung belajar di sini jumlahnya melebihi angka 50 orang (putrea-puteri).
8. Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang adalah tempat belajar setelah setahun merantau di Jambi untuk mencari rizki sebagai bekal kuliah.
9. Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo dengan konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam setelah tujuh tahun merampungkan jenjang S1.
10. Program Doktor (S3) jurusan Tafsir-Hadits di IAIN Sunan Ampel Surabaya sejak Juli 2007 dengan beasiswa dari Departemen Agama RI.


Jika Anda seorang penjelajah dunia MAYA, klik jalur ini

http://uangpanas.com/?id=lumbung2008

Ilmu Jiwa Belajar - Text Home

Tugas Rumah (Text Home)
UJIAN AKHIR
PROGRAM AKTA IV
Tahun Akademik 2008/2009


Mata Ujian : Ilmu Jiwa Belajar
Bobot : 4 sks
Progdi : PAI/ Akta IV
Dosen : Drs. M. Syakur Sf., M.Ag.


Ketentuan Umum:

1. Ujian ini merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh setiap mahasiswa di rumah sebagai Text Home;
2. Tugas harus diketik rapi dengan font jenis Time New Roman, ukuran 12, jarak 1,5 spasi di atas kertas kwarto;
3. Tugas bersifat individual dan dikumpulkan di fakultas atau langsung ke rumah pengampu MK (tanpa dijilid ataupun cover, cukup distaples), paling lambat tanggal 20 Mei 2009;
4. Tugas yang dikumpulkan harus disertai fotokopi Kartu Mahasiswa;
5.
Ingat !!!!
- Ini adalah tugas individu (fardlu ‘ain).
- Nasib kelompok tidak ditentukan oleh individu. Maka jika ada seorang yang belum memenuhi ketentuan, maka jangan sampai mengorbankan yang lain hingga tugas terlambat dikumpulkan.
- Terlambat mengumpulkan akan dikurangi nilainya.Mahasiswa yang tidak memenuhi ketentuan di atas (no. 4) lebih baik tidak mengumpulkan tugas.








Ketentuan Khusus:

1. Setiap mahasiswa wajib mengumpulkan tugas yang terdiri atas 5 soal x tema-tema yang ada dalam silabi. Silahkan buka Silabi IJB di_klik
1.har dari dua bagian, yaitu:
1.
2. Setiap mahasiswa wajib menjawab sembilan (9) soal dari soal-soal yang telah dibuat.
3. Tugas yang dikumpulkan harus diarsip terlebih dahulu dan ditandatangani oleh pemiliknya.
4. Sistematika Tugas terdiri dari dua bagian, yaitu:
Koleksi Soal IJB
Jawaban Atas 9 Soal

Selamat mengerjakan tugas, semoga sukses

URL berikut ini tidak berdosa untuk di_klik
http://uangpanas.com/?id=lumbung2008

Kenangan Ngaji Mawarda Alistinafia Ningtyas

Teman-2 !!!

Aku punya kengan manis saat ngaji di TPQ al-Itqan.

Teman-temanku lucu-lucu.

Kami belajar dan bermain dengan senang

Para ustadz kami sabar dan senang membimbing kami

Al-Qur`an 30 juz telah selesai kami khatamkan sebelum lulus MI


Apalagi saat diwisuda.

Aduuhhh .... Senang sekali, deh

Sungguh luar biasa


kini aku telah belajar lagi di MTs. NU Banat Kudus, duduk di kelas 7-D



Aku yang mengenang


Mawar cah_ngembal

Arek-arek TAFSIR HADITS IAIN Sunan Ampel

KOMUNITAS TAFSIR HADITS (PROGRAM DOKTOR)

Peserta Kuliah Program Studi Tafsir Hadits di Progam Doktor (S3) IAIN Sunan Ampel Surabaya Tahun Akademik 2007/2008 adalah limabelas (15) mahasiswa, terdiri dari 12 orang laki-laki dan 3 lainnya adalah wanita, berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka adalah:

1. M. Syakur Sf., Demak kemudian Kudus (Universitas Wahid Hasyim Semarang)

2. M. Fatih (Universitas Islam Mojopahit Mojokerto Jawa Timur)

3. Taufiqur Rahman, Sumenep (IDIA Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur)

4. Muhid (IAIN Sunan Ampel Surabaya)

5. Fathur Rahim, Bangkalan Madura (IAIN Sunan Ampel Surabaya)

6. Abdul Kholid, Kediri (IAIN Sunan Ampel Surabaya)

7. A. Rofiq Zainul Mun’in (IAI Nurul Jadid Probolinggo Jawa Timur)

8. Kasman (STAIN Jember Jawa Timur)

9. Abdul Matin bin Salman, Semarang kemudian Solo (STAIN Surakarta Jawa Tengah)

10. Dzikri Nirwana (IAIN Antasari Banjarmasin Kalimantan)

11. Yusuf Hanafi (UM Malang Jawa Timur)

12. Dalhari, Boyolali kemudian Tulungagung (STAI Diponegoro Tulungagung Jawa Timur)

13. Nur Mahmudah, Pati (STAIN Kudus Jawa Tengah)

14. Riri Fitria (IAIN Imam Bonjol Padang Sumatera Barat)

15. Lisfa Sentosa Aisyah (UHAMKA Jakarta) Kudus, 14 Juli 2007 Peserta, M. Syakur Sf. NIM: FO350725Dosen Wali: Prof. Dr. H.M. Ridwan Nashir, M.A. Materi Kuliah Teori Metodologi Tafsir-Hadits oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.Metodologi Studi Islam oleh Prof. Dr. H. Amin Abdullah, M.A.Paradigma Ilmu-Ilmu Sosial, Antropologi, Humaniora dan Agama oleh Prof. Dr. H. Noor Syam, M.A. Reading Arabic Islamic Text oleh Prof. Dr. H.M. Roem Rowi, M.A.Kajian Khusus Tafsir-Hadits oleh Prof. Dr. H.M. Ridwan Nashir, M.A.Pemetaan Kajian Tafsir Oleh Prof. Dr. H.M. Roem Rowi, M.A.Pemetaan Kajian Hadits oleh Dr. H. A. Zainuddin Mz., M.A.Pemikiran Islam Kontemporer oleh Prof. Dr. H.M. Toha Hamim, M.A.Teori dan Kritik Sejarah oleh Prof. Dr. Ali Mufrodi, M.A. Tem-tema Kuliah antara lain adalah:Sejarah ‘Ulum al-Qur`ân Kajian Hadits tentang Pendidikan WanitaPeta Tafsir di Indo-PakistanPeta Tafsir Arab SaudiNU dan Kajian Hadits NabawiMuhammadiyah dan Kajian HaditsPemikiran Pendidikan Hasan LanggulungHAM menurut ‘Abdullahi Sa’idPemikiran Abul FadlPemikiran ArkounPemikiran Fazlur Rahman

Rabu, 24 April 2013

Syilabi Ulum al-Qur`an 2013

Silabus "ulum al-Qur`an

‘ULUM al-QUR`AN
(Silabi)

Dosen: Drs. H. Mahlail Syakur Sf., M.Ag.
Universitas: Wahid Hasyim Semarang
Fakultas: Agama Islam
Program Studi: PAI, Mu'amalat, PGMI


Tema-Tema Pokok:


A. AL-QUR`ÂN
1. Pengertian & Nama al-Qur`ân
2. Kedudukan & Fungsi al-Qur`ân

B. ‘ULUM al-QUR`ÂN
1. Pengertian & Ruang lingkup UQ
2. Hubungan & Urgensi UQ & Tafsir
3. Sejarah UQ
Kelahiran Istilah UQ

C. ‘ILMU NUZUL al-QUR`ÂN
1. Pengertian & Tahapan Nuzul
2. Dalil & Bukti Nuzul Secara Berangsur
Hikmah Nuzul secara Berangsur
3. Pemeliharaan al-Qur`ân
Usaha Lanjutan

D. ‘ILMU ASBAB al-NUZUL
1. Pengertian
2. Macam Asbab
3. Makna Redaksi Asbab
Urgensi Asbab al-Nuzul

4. Kaidah menetapkan hukum berdasarkan asbab al-nuzul
Berbilangnya riwayat tentang Asbab al-Nuzul

E. ‘ILMU
al-MUNASABAH
1. Pengertian
Dasar Pemikiran
2. Relevansi Ilmu Munasabah & Tafsir
3. Pendapat ‘Ulama
Eksistensi tertib Ayat & Surat
F. ‘ILMU I’JAZ al-QUR`ÂN
1. Pengertian
2. Bukti Historik
3. Dasar & Urgensi
4. Macam I’jaz
5. Segi-segi I’jaz
6. Kadar I’jaz
Buku I’jaz

G. ‘ILMU FAWATIH al-SUWAR
1. Pengertian
2. Kedudukan Pembuka Surat
Pandangan ‘Ulama
H. ‘ILMU al-QIRA`AT
1. Pengertian
Perkembangan Ilmu Qira`at
2. Syarat Qira`at Mu’tabaratPengaruh Qira`at terhadap Istinbath Hukum

REFERENSI
A. Wajib
1. M. Husain al-Dzahabi, al-Tafsir aw al-Mufassirun, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
2. Manna’ al-Qathan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur`ân, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
3. Muhammad ibn Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur`ân, Beirut: Dar al-Ma’arifah, 1972.
4. Muhammad Abdul ‘Adhim al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur`an, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
5. Al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur`an, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
6. ---------- , Lubab al-nuqul fi Asbab al-Nuzul, Singapura, t.th.

B. Anjuran
7. Ahmad Adil Kamal, ‘Ulum al-Qur`ân, Kairo: al-Mukhtar al-Islami, t.th.
8. Ali Hasan al-‘Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta: Rajawali, 1992.
9. Basrah Lubis, Menguak Rahasia al-Qur`ân, Jakarta: Tursina, 1992.
10. Ibn Kalawih, al-Hujjah fi al-Qira`at al-Sab’, t.penerbit, t.th.
11. Inu Kencana Syafi’ie, al-Qur`ân Sumber Segala Disiplin Ilmu, Jakarta: Gema Insani, 1991.
12. Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum al-Qur`ân, Bandung: Rosdakarya, 1992.
13. Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur`ân, Beirut: dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1997.
14. Muhammad Arwani ibn M. Amin al-Syeikh al-Muqri`, Faidl al-Barakat fi Sab’ al-Qira`at, Kudus: Mubarakah Thayyibah, 1998.
15. Muhammad ibn Alwi al-Makki, Zubdah al-Itqan, Jiddah: Dar al-Syaruq, 1401 H.
16. M. Nashir Mahmud, al-Qur`ân di Mata Barat, Semarang: DIMAS, 1997.
17. Musthafa Shadiq al-Rifa’i, I’jaz al-Qur`ân, t.penerbit.
18. Rif’at Syauqi Nawawi, Pengantar Ilmu Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1988.
19. Sahilun A. Nasir, Ilmu tafsir al-Qur`ân, Surabaya: al-Ikhlash, 1990.
20. Al-Suyuthi, Itmam al-Dirayah, Semarang: Toha Putra, 1970.
21. M. Syakur Sf., ‘Ulum al-Qur`ân, Semarang: PKPI2, 2007, cet. V.


- ابن كلاويه ، الحجة في القراءة السبع
- الباقلاني، إعجاز القران
الذهبي ، التفسير والمفسرون
الرافعي، إعجاز القران
الزرقاني ، مناهل العرفان في علوم القران
الزركشي ، البرهان في علوم القران
السيوطي ، إتمام الدراية
السيوطي ، الإتقان في علوم القران
السيوطي ، التحبير في علم التفسير
الشيخ الحافظ المقرئ محمد أرواني ، فيض البركات في سبع القراءات
الشيخ الحافظ شعراني أحمدي ، التصريح اليسير في علم التفسير
الشيخ الحافظ شعراني أحمدي ، فيض الأساني
الصابوني، التبيان في علوم القران
صبحي الصالح ، مباحث في علوم القران
الكومي ، علوم القران
محمد ابن علوي الملكي ، زبدة الإتقان
منّاع قطان ، مباحث في علوم القران

Syilabi Ulum al-Qur`an 2013

Silabus "ulum al-Qur`an

‘ULUM al-QUR`AN
(Silabi)


Dosen: Drs. H. Mahlail Syakur Sf., M.Ag.
Universitas: Wahid Hasyim Semarang
Fakultas: Agama Islam
Program Studi: PAI, Mu'amalat, PGMI

Tema-Tema Pokok:

A. AL-QUR`ÂN
1. Pengertian & Nama al-Qur`ân
2. Kedudukan & Fungsi al-Qur`ân

B. ‘ULUM al-QUR`ÂN
1. Pengertian & Ruang lingkup UQ
2. Hubungan & Urgensi UQ & Tafsir
3. Sejarah UQ
Kelahiran Istilah UQ

C. ‘ILMU NUZUL al-QUR`ÂN
1. Pengertian & Tahapan Nuzul
2. Dalil & Bukti Nuzul Secara Berangsur
Hikmah Nuzul secara Berangsur
3. Pemeliharaan al-Qur`ân
Usaha Lanjutan

D. ‘ILMU ASBAB al-NUZUL
1. Pengertian
2. Macam Asbab
3. Makna Redaksi Asbab
Urgensi Asbab al-Nuzul

4. Kaidah menetapkan hukum berdasarkan asbab al-nuzul
Berbilangnya riwayat tentang Asbab al-Nuzul

E. ‘ILMU
al-MUNASABAH
1. Pengertian
Dasar Pemikiran
2. Relevansi Ilmu Munasabah & Tafsir
3. Pendapat ‘Ulama
Eksistensi tertib Ayat & Surat
F. ‘ILMU I’JAZ al-QUR`ÂN
1. Pengertian
2. Bukti Historik
3. Dasar & Urgensi
4. Macam I’jaz
5. Segi-segi I’jaz
6. Kadar I’jaz
Buku I’jaz

G. ‘ILMU FAWATIH al-SUWAR
1. Pengertian
2. Kedudukan Pembuka Surat
Pandangan ‘Ulama
H. ‘ILMU al-QIRA`AT
1. Pengertian
Perkembangan Ilmu Qira`at
2. Syarat Qira`at Mu’tabaratPengaruh Qira`at terhadap Istinbath Hukum

REFERENSI
A. Wajib
1. M. Husain al-Dzahabi, al-Tafsir aw al-Mufassirun, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
2. Manna’ al-Qathan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur`ân, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
3. Muhammad ibn Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur`ân, Beirut: Dar al-Ma’arifah, 1972.
4. Muhammad Abdul ‘Adhim al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur`an, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
5. Al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur`an, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
6. ---------- , Lubab al-nuqul fi Asbab al-Nuzul, Singapura, t.th.

B. Anjuran
7. Ahmad Adil Kamal, ‘Ulum al-Qur`ân, Kairo: al-Mukhtar al-Islami, t.th.
8. Ali Hasan al-‘Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta: Rajawali, 1992.
9. Basrah Lubis, Menguak Rahasia al-Qur`ân, Jakarta: Tursina, 1992.
10. Ibn Kalawih, al-Hujjah fi al-Qira`at al-Sab’, t.penerbit, t.th.
11. Inu Kencana Syafi’ie, al-Qur`ân Sumber Segala Disiplin Ilmu, Jakarta: Gema Insani, 1991.
12. Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum al-Qur`ân, Bandung: Rosdakarya, 1992.
13. Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur`ân, Beirut: dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1997.
14. Muhammad Arwani ibn M. Amin al-Syeikh al-Muqri`, Faidl al-Barakat fi Sab’ al-Qira`at, Kudus: Mubarakah Thayyibah, 1998.
15. Muhammad ibn Alwi al-Makki, Zubdah al-Itqan, Jiddah: Dar al-Syaruq, 1401 H.
16. M. Nashir Mahmud, al-Qur`ân di Mata Barat, Semarang: DIMAS, 1997.
17. Musthafa Shadiq al-Rifa’i, I’jaz al-Qur`ân, t.penerbit.
18. Rif’at Syauqi Nawawi, Pengantar Ilmu Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1988.
19. Sahilun A. Nasir, Ilmu tafsir al-Qur`ân, Surabaya: al-Ikhlash, 1990.
20. Al-Suyuthi, Itmam al-Dirayah, Semarang: Toha Putra, 1970.
21. M. Syakur Sf., ‘Ulum al-Qur`ân, Semarang: PKPI2, 2007, cet. V.

- ابن كلاويه ، الحجة في القراءة السبع
- الباقلاني، إعجاز القران
الذهبي ، التفسير والمفسرون
الرافعي، إعجاز القران
الزرقاني ، مناهل العرفان في علوم القران
الزركشي ، البرهان في علوم القران
السيوطي ، إتمام الدراية
السيوطي ، الإتقان في علوم القران
السيوطي ، التحبير في علم التفسير
الشيخ الحافظ المقرئ محمد أرواني ، فيض البركات في سبع القراءات
الشيخ الحافظ شعراني أحمدي ، التصريح اليسير في علم التفسير
الشيخ الحافظ شعراني أحمدي ، فيض الأساني
الصابوني، التبيان في علوم القران
صبحي الصالح ، مباحث في علوم القران
الكومي ، علوم القران
محمد ابن علوي الملكي ، زبدة الإتقان
منّاع قطان ، مباحث في علوم القران

Senin, 14 Desember 2009

Hadits Hasan


HADITS HASAN
Antara Shahih dan Dla’if

oleh M. Syakur Sf.

(Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Mahasiswa Program Doktoral (S3) Tafsir-Hadits IAIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di Pontren Darus Sa'adah Ngembalrejo Kudus)

Terma hasan sebagai salah satu sifat hadits belum dikenal oleh para ‘ulama` hadits sebelum al-Imam at-Tirmidzi[1] (209-279 H.). Beliau dianggap sebagai pencetus dan orang yang mengetengahkan terma hasan kali pertama melalui karyanya as-Sunan.[2]Pada prinsipnya terma hadits hasan diperkenalkan oleh al-Tirmidzi ra. dengan dalil bahwa suatu hadits tidak dapat dikategorikan sebagai hadits shahih tetapi tidak laik pula untuk dinilai sebagai hadits dla’if,[3] sehingga perlu ada pemetaan baru dengan regulasi tertentu. Dalam kesempatan ini penulis akan menyampaikan materi tentang Hadits Hasan melalui pembahasan singkat.

A. PENGERTIAN

Secara harfiah, kata hasan (حسن) atau hasanah (حسنة) berarti bagus, baik (khair = خير) atau terpuji (mahmud = محمود) yang berlawanan dengan makna kata sayyi`ah (سيّئة) atau madzmumah (مذمومة). Dengan demikian yang dimaksud dengan hadits hasan adalah hadits yang baik, bagus, dan terpuji. Adapun secara terminologis, hadits hasan dijelaskan sebagai berikut:
هو ما اتصل سنده بنقل عدل ضابط قلّ ضبطه قلّة لاتلحقه بحال من بعد تفرده منكرا وسلم من الشذوذ والعلة القادحة[4]
(Hadits Hasan adalah hadits yang sanadnya bersambung melalui jalur orang yang adil lagi dlabith, (tetapi) sedikit sekali ke-dlabith-annya, sebagai yang tidak patut dimiliki sebagai sikap seorang diri, tetapi selamat dari keadaan syudzudz dan ‘illat yang jelek)

Definisi tersebut mengandung pemahaman bahwa hadits hasan setidaknya memiliki ciri sebagai berikut:
1. sanadnya bersambung (muttashil);
2. diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dlabith tetapi hanya sedikit kadarnya.
3. tidak syadz (ghair syudzdudz) dan tidak memiliki cacat (ghair mu‘allal).

Dengan ciri pertama hadits hasan mempunyai kesamaan ciri dengan hadits shahih. Namun dengan ciri kedua menjadikan dirinya turun satu tingkat, keluar dari derajat shahih. Oleh karena tidak ‘illah maupun syudzudz, maka jika ada hadits mempunyai kedua ciri tersebut maka derajatnya turun menjadi hadits dla’if. Dengan demikian hadits hasan sewaktu-waktu dapat naik menjadi hadits shahih dan dapat turun tingkat menjadi hadits dla’if.
Contoh hadits hasan adalah seperti riwayat at-Tirmidzi sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r : لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاةٍ [5]

(Kami memperoleh hadits dari Abu Kuraib, dari Ubdah ibn Sulaiman dari Muhammad ibn ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, katanya, Rasul Allâh saw. bersabda: Sekiranya aku tidak memberatkan ummatku niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap (menjelang mendirikan) shalat)

Perhatikan bahwa hadits tersebut mempunyai sanad yang bersambung (muttaashil)[6], tetapi ia memiliki kekurangan, yakni di dalamnya terdapat nama Muhammad ibn ‘Amr. Hal mana nama tersebut di satu pihak terkenal dengan kejujurannya, tetapi tidak memperoleh kepercayaan di pihak yang lain, hingga dengan demikian sebagian masyarakat memandangnya lemah dari segi rendahnya tingkat hafalan yang dimilikinya (qillah dlabthihi = قلّة ضبطه), dan sebagian lagi menganggapnya sebagai orang yang dapat dipercaya (tsiqah = ثقة) karena kejujuran dan kebesarannya.
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Imam Muslim ra. bahkan al-Bukhari ra. melalui jalur Abu Hurairah ra. sebagai berikut:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ r قَالَ: لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، وَفِي حَدِيثِ زُهَيْرٍ عَلَى أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاةٍ [7]

(… Sekiranya aku tidak memberatkan orang-orang beriman –dan dalam riwayat Zuhair “atas ummatku”--, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap (menjelang mendirikan) shalat)

Contoh lainnya adalah riwayat al-Tirmidzi ra. berikut ini:

حدثنا جعفر ين سليمان الصبعي عن أبي عمران الجَوني عن أبي بكر بن أبي موسى الأشعري قال سمعت أبي بحضرة العدو يقول قال رسول الله r : إن أبواب الجنة تحت ظلال السيوف ... الحديث [8] (هذا حديث حسن غريب)

Hadits tersebut adalah hasan karena rijalnya ada empat orang yang masing-masing adalah tsiqah kecuali Ja’far ibn Sulaiman. Jika tidak demikian maka hadits tersebut adalah shahih.
Ibn al-Shalah mengatakan dalam hal ini, bahwa hadits hasan menurut al-Tirmidzi adalah hadits yang dalam sanadnya tidak terdapat rijal yang disangka berdusta, dan bukan pula hadits syadz.[9] Hingga dengan demikian dikatakan, bahwa jika ada hadits diriwayatkan melalui al-Tirmidzi yang bersumber dari kitabnya al-Jami’ maka bukan hadits shahih, tetapi hanya berada pada tingkat hasan, karena beliau sering menerangkan dalam banyak hadits dengan pernyataan “Ini hadits hasan lagi gharib (هذا حديث حسن غريب)”.[10]

B. KLASIFIKASI HADITH HASAN

Sebagai diketahui, munculnya hadits hasan dilatar-belakangi oleh pemikiran bahwa hadits dalam kondisi tertentu tidak dapat dinilai shahih dan tidak pula dinilai dla’if karena faktor-faktor tertentu. Maka para ‘ulama membedakan hadits hasan berdasarkan faktor dan sifatnya menjadi dua macam, yaitu Hasan li Dzatih dan Hasan li Ghairih.

1. Hasan li Dzatih
Hadits Hasan li Dzatih (الحديث الحسن لذاته) adalah hadits hasan sebagaimana yang telah dijelaskan di depan. Hadits ini dalam kondisi tertentu bisa naik ke tingkat hadits shahih, maka ia dalam posisi demikian diberikan nama hadits shahih li ghairih (الصحيح لغيره), ia menjadi shahih karena faktor lain. Contohnya adalah Hadits ibn ‘Amr (tentang siwak) di atas.
Hadits tersebut dinamakan hadits hasan li dzatih berdasar-kan riwayat al-Tirmidzi karena kesendiriannya tanpa dikaitkan dengan jalur lain.


Dalam riwayat tersebut nama-nama periwayatnya dapat diuraikan sebagai berikut:
a. at-Tirmidzi
b. Abu Kuraib
c. ‘Abdah ibn Sulaiman
d. Muhammad ibn ‘Amr
e. Abu Salamah
f. Abu Hurairah dari Rasul Allâh

Ditinjau dari jaringan sanad nama-nama tersebut bersambung dari at-Tirmidzi hingga Rasul Allâh. Mereka juga memiliki persyaratan ‘adil dan dlabith, kecuali Muhammad ibn ‘Amr.[11] Menurut ibn Hajar, ia adalah sanad yang tidak terkenal (majhul).[12] Demikian pula menurut ad-Dzahabi. Ia memunyai sifat ‘adil dan dlabith dalam kadar sedikit, atau lemah hafalannya.
Atau riwayat tersebut dinamakan hadits shahih li ghairih berdasarkan riwayatnya jika dikaitkan dengan jalur lain, yaitu jalur as-Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim ra.). Perhatikan kembali keterangan di atas!

2. Hasan li Ghair Dzatih

Adapun Hadits Hasan li Ghairih (الحديث الحسن لغيره) adalah hadits dla’if yang dengan sebab tertentu dapat meningkat statusnya menjadi hadits hasan. Dengan kata lain, hadits dengan status hasan dikarenakan ada faktor tertentu, misalnya terdapat perawi pelupa berat (mughaffal) atau sering salah (katsir al-khatha`) dalam meriwayatkan hadits. Pada dasarnya hadits hasan li ghair dzatih adalah hadits dla’if,[13] kemudian karena ada faktor lain sebanding yang menyebabkan statusnya naik ke posisi lebih atas.[14]


C. REDAKSI HADITS HASAN

Yang dimaksud dengan sub tema ini adalah terma-terma yang dipergunakan oleh para muhadditsun untuk menyatakan sifat-sifat bagi hadits hasan dari segi keadaannya. Pernyataan sifat bagi sebuah hadits lazimnya diletakkan setelah hadits itu sendiri, sebagai pernyataan semisal komentar.


1. Hasan Shahih; contohnya dapat diperhatikan dalam hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ r نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا فَقِيلَ الأَكْلُ قَالَ ذَاكَ أَشَدُّ (رواه الترمذي)[15] قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Pada akhir hadits tersebut terdapat pernyataan Abu ‘Isa (at-Tirmidzi), “hadits tersebut adalah hasan shahih”.


Contoh lainnya adalah hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r : مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ [16]
قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Perhatikan pula hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ: مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ [17].
قَالَ أَبُو عِيسَى : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Pernyataan (هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ) tersebut ditemukan dalam tradisi al-Tirmidzi dalam Sunannya. Sekilas, pernyataan tersebut membingungkan, karena adanya ambiguitas antara hasan dan shahih yang jelas berbeda. Maka yang dimaksud dengan ungkapan (هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ) di atas adalah bahwa jika ada sebuah hadits diriwayatkan dengan dua jalur (isnad), maka salah satunya adalah isnad hasan sedangkan lainnya adalah isnad shahih. Artinya bahwa hadits yang dimaksud adalah hasan menurut satu isnad, tetapi shahih melalui jalur isnad lainnya.

2. Hasan Gharib, contohnya sebagai tersebut dalam hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ أَسْبَاطِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r : الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ َلا يَخُونُهُ وَلا يَكْذِبُهُ وَلا يَخْذُلُهُ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ عِرْضُهُ وَمَالُهُ وَدَمُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْتَقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ (رواه الترمذي)[18].
قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

3. Gharib Hasan, seperti dalam hadits berikut ini:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ r قَالَ لَهُ: يَا عَلِيُّ ثَلاثٌ لا تُؤَخِّرْهَا الصَّلاةُ إِذَا آنَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالأَيِّمُ إِذَا وَجَدْتَ لَهَا كُفْئًا (رواه الترذي) [19].
قَالَ أَبُو عِيسَى : هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ حَسَن

4. Hasan Shahih Gharib, seperti sifat yang diberikan pada hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَمَّا حُمِلَتْ جَنَازَةُ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ قَالَ الْمُنَافِقُونَ مَا أَخَفَّ جَنَازَتَهُ وَذَلِكَ لِحُكْمِهِ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ r فَقَالَ: إِنَّ الْمَلائِكَةَ كَانَتْ تَحْمِلُهُ (رواه الترمذي)[20]
قَالَ أَبُو عِيسَى : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Jika hadits dikatakan dengan ungkapan shahih al-isnad (صحيح الإسناد) atau hasan al-isnad (حسن الإسناد) maka maksudnya adalah bahwa hadits yang dimaksud adalah shahih atau bagus dalam hal isnadnya, bukan matan haditsnya. Jika dikatakan dengan terma hasan shahih (حسن صحيح) maka maksudnya adalah bahwa hadits tersebut memiliki dua sistem isnad, satu isnad menunjuk status shahih dan satunya menunjuk status hasan. Demikian pula jika dikatakan dengan ungkapan hasan gharib (حسن غريب) maupun gharib hasan (غريب حسن), maka suatu hadits berstatus ganda, dan seterusnya. Demikian menurut al-Tirmidzi.[21]


D. BERHUJJAH DENGAN HADITS HASAN
Hadits hasan dapat dijadikan hujjah dan dapat dipraktik-kan pesannya (yu’malu bihi) sebagaimana hadits shahih. Hanya saja kadarnya tidak sekuat kualitas hadits shahih. Para tokoh seperti al-Hakim, ibn Majah, dan ibn Huzaimah mengguna-kannya sebagai alat tarjih,[22] artinya hadits hasan akan dijadikan hujjah jika tidak bertentangan dengan hadits shahih atau tidak ditemukan hadits shahih. Menurut jumhur ‘ulama, status kehujjahan hadits hasan seperti hadits shahih, namun ia berada di tengah-tengah antara hadits shahih dan hadits dla’if. Menurut al-Khathabi, hadits hasan adalah hadits yang diterima oleh mayoritas ‘ulama dan dapat dipergunakan sebagai hujjah oleh para fuqaha`. Menurut ibn as-Shalah, hadits hasan baik untuk diamal-kan. Dan apa yang dijelaskan oleh al-Tirmidzi dan al-Khatthabi adalah tidak ada batas pemisah antara hadits hasan dan hadits shahih.[23] Menurut ibn Taymiah, hadits hasan berada di bawah hadits shahih. Jika keduanya terjadi perbedaan atau bahkan bertentangan, maka harus didahulukan hadits shahih.$
[1]Nama lengkapnya: Muhammad ibn ‘Isa ibn Sawrah at-Tirmidzi, tokoh hadits yang memperoleh title al-Imam dan al-Hafidh.
[2]Asal nama kitab ini adalah al-Jami’ al-Mukhtashar min as-Sunan ‘an Rasul Allâh saw. Wa Ma’rifah as-Shahih wal-Ma’lul wama ‘alaih al-‘Amal. Nama lain kitab ini adalah Jami’ at-Tirmidzi. Lihat al-Albani dalam Muqaddimah Sunan at-Tirmidzi, edisi tahqiq, terbitan al-Ma’arif Riyadl, 1417 H., h. 8.
[3]Muhammad Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuh, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, h. 335.
[4]Mahmud Yunus, ‘Ilm Mushthalah al-Hadits, Jakarta: Sa’diyah Putera, t.th., h. 43.
[5]Lihat Sunan al-Tirmidzi, pada bab al-Siwak.
[6]Sanadnya bersambung dari al-Tirmidzi hingga nabi.
[7]Lihat Shahih Muslim, pada bab al-Siwak.
[8]Mahmud Thahhan, Taysir Mushthalah al-Hadith, Surabaya: al-Haramayn, t.th., h. 46-47.
[9] Lihat Abu al-Fida` Isma’il ibn Katsir al-Qurasyi al-Syafi’i, al-Ba’its al-Hatsits fi ikhtishar ‘Ulum al-Hadits, (CD Program: al-Maktabah al-Syamilah), h. 4.
[10] Mahmud Thahhan, Op. Cit., h. 49.
[11]Nama lengkapnya: Muhammad ibn ‘Amr ibn ‘Ali ibn Abi Thalib al-Qurasyi al-Hasyimi.
[12] Karena nama Muhammad ibn ‘Amr tidak ada dalam daftar anak-cucu Ali, yang ada adalah Muhammad ibn ‘Ali. Lihat ibn Hajar, Taqrib at-Tahdzib, h. 499.
[13] Lihat ‘Ajjaj, Op. Cit., h. 333.
[14] Lihat Muqaddimah ibn Shalah, h. 5.
[15] Sunan al-Tirmidzi, Hadits nomor 1800.
[16] Ibid., hadits nomor 2874.
[17] Ibid., hadits nomor 3388.
[18] Ibid., hadits nomor 1850.
[19] Ibid., hadits nomor 156.
[20] Ibid.i, hadits nomor 3784.
[21]Baca Ibn al-Shalah, dalam muqaddimah Ushul al-Hadits, h. 2.
[22] Lihat ‘Ajjaj, Loc. Cit.
[23] Abu al-Fida` Isma’il ibn Katsir al-Qurasyi al-Syafi’i, Loc. Cit.