Senin, 03 November 2008

'Ulum al-Hadits (Silabi)


Syllabus
علوم الحديث
Mata Kuliah : ‘ILUM AL-HADITS
Bobot : 3 SKS
Prodi : Strata Satu (S1)

jURUSAN : PAI, Mu’amalat, PGMI
Pengampu : Drs. M. Syakur Sf., M.Ag.

1. Tema
I. TERMINOLOGI HADITS
A. Pengenalan istilah Hadits, Sunnah, Khabar dan Atsar
B. Klasifikasi Hadits Berdasarkan Redaksi
C. Hadits dan Sunnah
D. Struktur Hadits: Sanad, Matan dan Mukharij
E. Sebutan bagi Ahli Hadits

II. KEDUDUKAN HADITS
A. Dalil Kehujjahan Hadits
B. Fungsi Hadits terhadap al-Qur`ân
C. Hadits Nabawi dan Hadits Qudsi

III. ‘ULUM AL-HADITS
A. Pengertian
B. Cabang ‘Ulum al-Hadits (Ilmu Rijal Hadits, Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, Ilmu Gharib al-Hadits, Ilmu Asbab Wurud al-Hadits, Ilmu Tawarih al-Mutun, Ilmu Nasikh al-Hadits, Ilmu Mukhtalif al-Hadits, Ilmu ‘Ilal al-Hadits)
C. Urgensi ‘Ulum al-Hadits dalam Studi Islam

IV. SEJARAH HADITS
A. Pra Tadwin Hadits
B. Masa Tadwin Hadits dan Tokohnya
C. Masa Pengembangan Hadits
D. Masa Pembukuan abad V H. hingga sekarang

V. METODE KODIFIKASI HADITS
A. Metode Kodifikasi
B. Para Pengumpul Hadits

VI. KLASIFIKASI HADITS
A. Berdasarkan Kwantitas Sanad
B. Berdasarkan Kwalitas Sanad
C. Berdasarkan Maqbul dan Mardud

VII. HADITS SHAHIH DAN DLA’IF
A. Hadits Shahih dan Kriterianya
B. Hadits Dla’if dan Permasalahannya


VIII. HADITS MAUDLU’
A. Pengerrtianya
B. Latar Belakang Kemunculannya
C. Hukum Meriwayatkannya
D. Tanda-tanda Hadits Maudlu’
E. Kehujjahannya
F. Contoh Hadits Maudlu’
G. Karya tentang Hadits Maudlu’

IX. ILMU AL-JARH WA AL-TA’DIL
A. Rawi dan Kriteria Transformasi Hadits
B. Pengenalan Kitab tentang al-Jarh wa al-Ta’dil
C. Tingkatan Ta’dil dan redaksinya
D. Jarh dan redaksinya

X. ILMU TAKHRIJ HADITS
A. Pengertian
B. Metode Takhrij dan contohnya
C. Mengenal Kitab-Kitab Rujukan


2. DAFTAR MARAJI’
Al-‘Azami, Muhammad Mushthafa, Prof., Dr., Dirasat fi al-Hadits al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih (دراسة في الحديث النبويّ وتاريخ تدوينه), juz I, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1980.
al-Hadid, ibn Abi, Syarh Nahj al-Balaghah (شرح نهج البلاغة), Beirut: Dar al-Fikr, t.th., juz 3.
al-Jurjani, Abul Hasan, al-Mukhtashar fi Ushul al-Hadits (المختصر في أصول الحديث), (terj. A. Zarkasyi Chumaidy), Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995.
Al-Khathib, Muhammad ‘Ajjaj, Prof. Dr., al-Sunnah Qabla al-Tadwin (السنة قبل التدوين), Cairo: Maktabah Wahbah, 1963.
Al-Khathib, Muhammad ‘Ajjaj, Prof. Dr., Ushul al-hadits 'Ulumuhu wa Mushthalahuhu (أصول الحديث ومصطلحه), Beirut: Dar al-Fikr, 1973.
al-Kinani, Ali ibn ‘Iraq, Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah (تنزيه الشريعة المرفوعة), Kairo: Maktabah Kairo, 1378 H.
Al-Mas’udi, Hafidh Hasan, Minhah al-Mughits fi ‘Ilm Mushthalah al-Hadits (منحة المغيث في علم مصطلح الحديث), Surabaya: Mhammad ibn Ahmad Nabhan, t.th.
al-Razi, ibn Abu Hatim, ‘Ilal al-Hadits (علل الحديث), Mesir: al-Mathba’ah al-Salafiyyah, 1343 H, jilid I.
al-Shiddiqi, Hasbi, T.M., Prof., Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999.
Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Mawdlu’ah (فوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة), Edisi Abdur Rahman ibn Yahya al-Yamani, 1960.
al-Tahanawi, Dhafar Ahmad al-‘Utsmani, Qawâ’id fi ‘Ulum al-Hadits (قواعد في علوم الحديث).
al-Zafaf, Muhammad, al-Ta’rif bi al-Qur`ân wa al-Hadits (التعريف بالقرآن والحديث), Kuwait: al-Falah, 1979.
Amin, Mustafa, Muhadlarat fi ‘Ulum al-Hadits (محاضرات في علوم الحديث), Kairo: Jami’ah al-Azhar, 1971, juz I,
Ibn al-Atsir, al-Nihayah fi Gharib al-Hadits (النهاية في غريب الحديث), Kairo, 1963, juz I,
Isma’il, Syuhudi, Dr., Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Rahman, Fazlur, et. al., Wacana Studi Hadits Kontemporer, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.
Shalih, Subhi, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (علوم الحديث ومصطلحه), Beirut: Dar al-‘Ilm, 1977.
Thahhan, Mahmud, Dr., Taysir Mushthalah al-Hadits (تيسير مصطلح الحديث), Surabaya: al-Haramayn, t.th.
Thahhan, Mahmud, Dr., Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid (أصول التخريج ودراسة الأسانيد), Beirut: Dar al-Qur`ân al-Karim, 1979.
Wensinck, A. J., al-Mu’jam al-Mfahras li Alfadh al-Hadits al-Nabawi (المعجم المفهرس لألفاظ الحديث النبوي), Beirut: t. penerbit (berasal dari Lieden: t. penerbit), 1936.
Wensinck, A. J., Miftah Kunuz al-Sunnah (مفتاح كنوز السنّة), Leiden: t. penerbit, 1927 M. (Disebarkan oleh M. Fu`ad di Kairo, 1353 H.).
Ya’qub, Ali Mustafa, M.M., H., Imam Bukhari & Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991.
Yunus, Mahmud, Prof., Ilmu Mushthalah al-Hadits (علم مصطلح الحديث), Jakarta: al-Sa’diyyah Putera, 1940.
Zuhri, Muh., DR., Hadits Nabi (Tela’ah Historis dan Metodologis), Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997.


***ms2f***
- syakur unwahas blogspot
- e_mail: syakur_cahkudus@yahoo.co.id

- Jika Anda mau mengetahui cara mendapatkan tambahan rizki lewat dunia maya (internet), silahkan kunjungi URL ini >> http://uangpanas.com/?id=lumbung2008



Kamis, 02 Oktober 2008

mohon maaf di lebaran 1429 H.

selamat ber'Idul Fitri 1429 H.
Mohon ma'af Lahir & Batin

'Idul Fitri 1429 H.

Segenap Keluarga kami mengucapkan
Selamat 'Idul Fitri 1429 H.
Mohon Ma'af Lahir & Batin

Rabu, 09 Juli 2008

ujian اللغة العربيّة الثانية


Ujian Bahasa ‘Arab II

Tugas Rumah (Text Home)
UJIAN AKHIR
Semester Genap 2007/2008


Mata Ujian : Bahasa Arab II
Bobot : 2 sks
Progdi : PAI/ Mu’amalat/ PGMI (S1)
Dosen : Drs. M. Syakur Sf., M.Ag.


Ketentuan Umum:

1. Ujian merupakan tugas yang dikerjakan oleh mahasiswa di rumah sebagai Text Home;
2. Tugas harus ditulis rapi dengan tangan dan tinta biru di atas kertas bergaris/ polos;
3. Tugas bersifat individual dan dikumpulkan (tanpa dijilid) paling lambat tanggal 2 Agustus 2008, di fakultas lewat ketua kelas masing-masing (dibendel berdasarkan kelas);
4. Tugas yang dikumpulkan harus disertai fotokopi KST (bukan KRS) dan fotokopi Kartu Mahasiswa pemiliknya yang masih berlaku;
5. Mahasiswa yang tidak memenuhi ketentuan di atas (no. 2 dan 4) lebih baik tidak mengumpulkan tugas.

Ketentuan Khusus/ Tugas:
Setiap mahasiswa menyalin tiga judul bacaan dari buku yang dipergunakan dan ditebitkan di Universitas Islam Madinah (جامعة مدينة الإسلامية), dilengkapi dengan syakal;
Setiap mahasiswa wajib memilih salah satu surat pendek dari al-Qur`ân dan menganalisisnya berdasarkan I’rab (إعراب).
Analisis I’rab ditulis dengan tangan secara rapi (tinta biru).


Selamat belajar, semoga sukses
مع النجاح

ujian 'ULUM AL_QUR`AN


Ujian ‘Ulum al-Qur`ân

Tugas Rumah (Text Home)
UJIAN AKHIR
Semester Genap 2007/2008


Mata Ujian : ‘Ulum al-Qur`ân
Bobot : 2 sks
Progdi : PAI/ Mu’amalat/ PGMI (S1)
Dosen : Drs. M. Syakur Sf., M.Ag.


Ketentuan Umum:

1. Ujian merupakan tugas yang dikerjakan oleh mahasiswa di rumah sebagai Text Home;
2. Tugas harus diketik rapi dengan font Time New Roman ukuran 12, jarak 1,5 spasi di atas kertas kwarto;
3. Tugas bersifat individual dan dikumpulkan (tanpa dijilid) paling lambat tanggal 2 Agustus 2008, di fakultas lewat ketua kelas masing-masing (dibendel berdasarkan kelas);
4. Tugas yang dikumpulkan harus disertai fotokopi KST (bukan KRS) dan fotokopi Kartu Mahasiswa yang masih berlaku;
5. Mahasiswa yang tidak memenuhi ketentuan di atas (no. 4) lebih baik tidak mengumpulkan tugas.


Ketentuan Khusus:

Setiap mahasiswa wajib mengumpulkan 3 soal x 8 bab yang ada dalam silabi ‘Ulum al-Qur`ân.
Setiap mahasiswa wajib menjawab sembilan (9) soal dari soal-soal yang telah dibuat sendiri.
Tugas yang dikumpulkan harus dipastikan diarsip dan ditandatangani oleh pemiliknya.


Selamat belajar, semoga sukses
مع النجاح

Jumat, 16 Mei 2008

sepakbola di UWH


tim UWH uji diri dengan berlatih bersama tim Forum Wartawan Jawa Tengah pada 19 Mei 2007

mengenal al-Qur`an

AL-QUR`ÂN
(Terminologi dan Fungsi)

oleh: MS2F
(Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, mahasiswa Program Doktor Tafsir-Hadith IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengabdi Pontren Darus Sa’adah Ngembalrejo Kudus)


A. AL-QUR’AN DAN BEBERAPA NAMANYA

1. Pengertian a1-Qur`ân
Ditinjau dari segi bahasa, secara umum diketahui bahwa kata al-Qur’án (القران) berasal dari kata Qara`a (قرأ) yang merupakan isim musytaq dengan bentuk fi’il mudlari’nya adalah yaqra`u (يَقْرأ) dan mashdarnya adalah qirâ`ah (قِراءة) dan qur`ân (قُرْآن) yang dipahami sebagai kata dengan arti bacaan. Kata tersebut juga disinyalir bersinonim dengan kata al-jam’u (اْلجَمْع) dan al-dlammu (الضَمّ) yang berarti “mengumpulkan” atau “kumpulan”. Maka dengan demikian menurut Manna’ al-Qathan, kata qur’ãn pada dasarnya bisa diartikan sebagai mengumpulkan huruf-huruf (ahruf, أَحْرُف) dan kata-kata (alfâdh, أَلْفَاظ) dalam suatu bacaan secara baik. Sedangkan kata al-Qur’ân yang dipakai sebagai nama bagi wahyu terakhir, menurut asalnya adalah searti dengan kata al-qirâ`ah (الْقِراءة), yang merupakan salah satu bentuk mashdar dari kata qara`a (قرأ) yang searti dengan kata tilâwah (تِلاوة).

Di samping itu masih ada lagi bentuk mashdar dari lafadh qara`a ini, yaitu qur` (قُرْءٌ) yang ditulis tanpa alif dan nun yang mengikuti bentuk standar (wazan fi’il) fi’il madli fa’ala (فعل). Dengan demikian kata qara`a mempunyai tiga wazan (bentuk/ shighat) mashdar, yakni Qur`ân (قُرْآن), qirâ`ah (قِراءة) dan qur` (قُرْء). Ketiga wazan tersebut tetap memiliki satu makna, yakni “bacaan”. Lebih lanjut beliau menyatakan. bahwa kata al-Qur’ân merupakan bentuk mashdar yang mempunyai fungsi makna isim maf’ul (yang di ...), sehingga maknanya menjadi “yang dibaca”, “terbaca” atau “bacaan”.


a. Al-Syafi’i; yang berpendapat bahwa kata al-Qur`ân bukan bentuk isim mahmuz dari kata qara`a (قرأ) sebagai kata-kata lainnya, tetapi merupakan isim ‘âlam yang dikhususkan (spesialisasi) sebagai nama bagi Kalam Allâh yang terakhir untuk nabi sekaligus rasul terakhir. Nama tersebut hanya diperuntukkan bagi al-Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Sehingga dengan demikian kata al-Qur`ân tidak perlu diartikan atau dicari maknanya secara hermeneutik sebagaimana kata Injil yang dijadikan nama bagi Kitab Nabi Isa as. dan Taurat sebagai nama bagi Kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Pendapat ini sesuai dengan riwayat al-Baihaqi dan al-Khathib dalam beberapa keterangan.
b. Al-Farra` (wft. 207 H.) menyatakan, bahwa kata al-Qur’ân yang tidak memakai hamzah itu merupakan kata musytaq (pecahan) dari kata qarã-in (قَرَائِن) yang merupakan bentuk jama’ dari kata qarinah (قَرينة) yang berarti “alasan” atau “bukti” (indikator). Dikatakan demikian karena ayat-ayat dalam al-Qur`ân adalah saling mendukung dan atau saling menjelaskan satu sama lain.
c. Al-Zajjaj (wft 311 H.) menyatakan, bahwa kata al-Qur`ân yang ditulis dan dibaca tanpa hamzah itu hanya karena alasan untuk meringankan bacaan bagi bangsa Arab (ketika itu) atau yang dikenal dengan terma takhfif (خفيف).
d. Al-Lihyani menyatakan, bahwa kata a1-Qurãn merupakan bentuk mashdar dari kata qara`a (قرأ) sebagaimana bentuk kata rujhãn (رُجْحان) dan ghufrân (غُفْران) yang berfungsi sebagai kata isim dengan fungsi makna sebagai isim maf’ul (اسم مفعول). Maka dengan demikian kata al-Qur`ân mempunyai arti “yang dibaca”, yakni sesuatu yang senantiasa menjadi bacaan bagi siapa pun yang mencintainya, baik dalam shalat maupun lainnya.
e. Al-Asy’ari (wft. 324 H.), seorang ahli dan perintis ilmu Kalam memberikan pandangan bahwa kata al-Qur`ân itu tidak berhamzah, karena kata tersebut merupakan bentuk kata yang musytaq (kata bentukan atau pecahan) dari kata qarana (قَرَن) yang berarti “menggabungkan” atau “membersamakan”. Hal mana al-Qur`ân memang merupakan rangkaian ayat-ayat dan atau surat-surat yang terhimpun dalam satu mushhaf.
f. al-Zarkasyi juga tidak ketinggalan dalam hal mi. Beliau menyatakan bahwa kata al-Qur’ân adalah lafadh musytaq dari kata al-Qar`u (الْقَرْء) yang searti dengan kata al-Jam’u (الجمع), yang berarti “himpunan” atau “kumpulan”. Pengertian ini beliau angkat dari kenyataan, bahwa kebiasaan orang Arab adalah mengucapkan ungkapan قَرَأْتُ اْلمَاءَ ِفي اْلحَوْضِ (Saya mengumpulkan air dalam telaga). Demikian pula halnya yang ada pada kata al-Qur`ân, yang memang merupakan kumpulan isi dan buah dari kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Kecuali itu al-Qurãn juga menghimpun berbagai macam ilmu. Kiranya pemikiran ini sejalan dengan firman Allâh SWT.:
(.… Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan)

g. Shubhi al-Shalih dalam hal ml hanya memberikan penilalan, bawa pendapat yang paling kuat adalah yang menyatakan bawa kata al-Qur’ân merupakan bentuk mashdar sebagai sinoim dari kata qirâ-`ah (قِراءة) yang berarti bacaan. Beliau menambahkan, bahwa lafadh qara`a (قرأ) yang semakna dengan lafadh talâ - yatlu (تَلَى - يَتْلُو) itu berasal dari bahasa Arami, dan kata tersebut telah dipakai dan menjadi bahasa baku dalam bahasa Arab ketika al-al-Qur`ân diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.. Kemudian kata itu dijadikan nama abadi bagi Kitab Suci umat Islam.

Di samping pendapat-pendapat di atas dalam al-Qur`án sendiri terdapat ayat-ayat yang menyebutkan kata al-Qurân dengan arti “bacaan”. Misalnya pada ayat berikut ini:
فَاِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ... (القيامة: 18)
(Apabila Kami te!ah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.). (al-Qiyamah:18)

(Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat) (al-A’raf: 204)


Maksud ayat tersebut adalah jika dibacakan al-Qur`ân maka kita diwajibkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam sembahyang maupun di luar sembahyang, terkecuali dalam shalat berjamaah ma'mum boleh membaca Al Faatihah sendiri waktu imam membaca ayat-ayat Al Quran. Baca pula ayat berikut ini!
(…. dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur`ân sebelum disempurnakan mewahyukan kepadamu ...).


Adapun secara terminologis, pengertian al-Qur`ân adalah sebagai disebutkan berikut ini.
a. Menurut Ali al-Shabuni (wft. 1390 H.), al-Qur`ân adalah kalam Allâh yang bernilai mu’jizat yang diturunkan kepada nabi terakhir (Khâtam al-anbiyâ` = خاتم الأنبياء) dengan perantara Malaikat Jibril as. yang tertulis pada Mushhaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan bacaannya termasuk ibadah, yang diawali dengan surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat al-Nas.
b. Al-Suyuthi menerangkan, bahwa al-Qur`ãn adalah kalam Allâh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang tidak ditandingi oleh penentangnya walau hanya sekadar berupa satu surat.
c. Menurut Manna’ al-Qathan, al-Qur`ân adalah kalam Allâh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang bacaannya dianggap sebagai ibadah.
d. Menurut Kamaluddin Marzuki, al-Qur`än adalah kalam Allâh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang bacaannya adalah bernilai ibadah, yang susunan kata dan isinya merupakan mu’jizat, termaktub dalam suatu Mushhaf dan dinukil secara mutawatir.
e. Drs. H. Basrah Lubis menulis, bahwa ai-Qur`ân adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan perantara Malaikat Jibril as. dan sebagal pedoman hidup bagi umat manusia.
f. Menurut para ahil Ushul Fiqh, al-Qur`ãn adalah nama bagi keseluruhan al-Qur`ân dan nama bagi suku-sukunya. Maka dengan demikian satu ayat pun darinya bisa disebut al-Qur`ãn.
g. Para Ahli Kalam memberikan batasan al-Qur`ân dengan menyatakan, bahwa al-Qur`ãn adalah kalam azali yang menetap pada zat Allâh yang senantiasa bergerak (tak pernah diam) dan tak pernah ditimpa musibah.
h. Para ahli agama (Ahli Ushul) berpendapat, bahwa al-Qur`ãn adalah nama bagi kalam Allâh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang ditulis dalam Mushhaf.
i. Ikhtlshar penulis, al-Qur`ân adalah Kalam Allâh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai rasul terakhir di akhir zaman, (ada yang) melalui Malaikat Jibril as. yang dalam bentuknya sekarang termaktub dengan jelas dalam Mushhaf ‘Utsmani dengan menggunakan bahasa Arab, keseluruhannya merupakan mu’jizat, yang sampai pada kita selaku umatnya dengan jalan mutawatir, jika dibaca maka bacaannya dinilai ibadah, baik dalam shalat maupun lainnya, dan dihukum kafir orang yang mengingkarinya. Dengan demikian secara sederhana dapat dirumuskan bahwa ciri al-Qur`ân adalah:

1) Kalam Allâh (كلام الله)
2) Diturunkan kepada Nabi Muhammad (المنزل على محمد)
3) Dengan (tidak semua) peraritara Jibril as.
4) Menggunakan (sesuai) bahasa Arab (بلسان عربيّ)
5) Merupakan mu’jizat (المعجز)
6) Bacaannya dinilai ibadah (المتعبد بتلاوته)
7) Berdasarkan rlwayat mutawatir (المتواتر)


Dengan memperhatikan beberapa definisi di atas, maka kita pun telah sampai pada pemahaman bahwa kalam Allâh yang diturunkan kepada para nabi selain Nabi Muhammad saw. tidak dapat disebut sebagal al-Qur`ân. Begitu pula firman (kalam) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. tetapi membacanya tidak termasuk kategori ibadah, maka ia bukan al-Qur`ân, tetapi hanya disebut sebagai Hadits Qudsi.


2. Nama-nama Al-Qurân
Wahyu Allâh yang diturunkan sebagai kitab terakhir diberi nama yang termasyhur, yakni al-Qur`ân yang berarti “bacaan” sebagaimana keterangan di atas. Nama-nama lain yang dimllikinya cukup banyak. Antara lain adalah:

a. Al-Kitab (الكتاب) atau Kitab Allâh yang berarti “catatan”.
b. Al-Furqan (الفرقان) yang berarti “pembeda” (antara yang baik dan buruk).
c. Al-Dzikr (الذكر) yang berarti ”peringatan”.
d. Al-Qur`ãn (القران) yang berarti “bacaan” dan merupakan salah satu nama bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Nama lnilah yang paling terkenal dan dikenal baginya, serta paling sering disebut dalam al-Qur`ân itu sendiri. Paling tidak sebanyak limapuluh kali kata ini disebut dalam al-Qur`ân.
e. Al-Tanzil (التنزيل) yang berarti “yang diturunkan”.

Di samping nama-nama di atas masih banyak nama yang diberikan kepada al-Qur`ân, seperti mushhhaf, kalam, dan sebagainya. Menurut al-Zarkasyi, Abu al-Ma’ali al-’Azizi ibn ‘Abd al-Malik bahkan menjelaskan bahwa al-Qur`ãn mempunyai 55 nama.


B. KEDUDUKAN AL-QUR’AN DAN FUNGSINYA BAGI KEHIDU PAN MAN USIA

Muhammad ibn ‘Abd Allâh saw. diangkat sebagai rasul dilengkapi dengan tugas-tugas yang disertai dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaannya. Petunjuk-petunjuk tersebut secara lengkap termuat dalam al-Qur`ân. sebagai alat untuk memahami dan menerima ajaran Islam. Agama Islam mengajak manusia agar menjadi umat pilihan, yakni umat yang sempurna lahir-batin, mampu berrkomunikasi dengan Tuhannya dan dengan sesamanya, juga dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia berhajat kepada hal-hal yang sangat bermanfa’at bagi kehidupannya. Dan sebagai umat Islam, al-Qur`ânlah yang perlu mendapat perhatian dalam kehidupan mereka.


1. Kedudukan al-Qur’án
Sebagai wahyu terakhir al-Qur`ân mempunyai banyak kedudukan bagi kehidupah manusia. Antara lain adalah:

a. Sebagai sumber dari segala sumber hukum Islam; bahwa al-Qur`ân merupakan sumber hukum Islam yang pertama dan utama.
b. Sebagai pedoman dan petunjuk bagi kehidupan manusia.
c. Sebagai nasehat, obat, hidayah dan rahmat bagi orang-orang beriman.
d. Sebagai penyampai berita gembira bagi orang-orang beriman. Baca surat al-Naml ayat 2, al-Nahl ayat 89 dan 102, al-Ahqaf ayat 12, Yunus ayat 64, al-Zumar ayat 17, dan sebagainya.
e. Sebagai penawar hati (Syifa’ = شفاء) bagi orang yang membaca dan mempelajarl isinya hingga mendapat ketenangan dan ketenteraman. Skala rasionalnya adalah bahwa orang yang membaca ayat-ayat berarti ia mengadakan komunikasi dengan Allâh. Berkomunikasi dengan Allâh SWT. disebut dengan terma dzikr. Dan selalu berdzikir kepada Allâh SWT. telah dijanjikan akan mendapat ketenangan hati, insya Allâh. Keterangan selanjutnya dapat dibaca surat al-Ra’d ayat 28.

2. Fungsi al-Qur`ân
Keberadaan al-Qur`ân sebagai wahyu terakhir mempunyai beberapa fungsi, antara lain sebagai berikut:
a. untuk membenarkan atau menjadi saksi kebenaran (mushaddiq = مصدّق) bagi kitab-kitab sebelumnya. Misalnya dalam keterangan firman Allah surat al-Nisa: 105.
b. untuk menjadi tuntunan (imam) bagi umat yang beriman sebagai layaknya Taurat menjadi imam sekaligus rahmat bagi pengikut Nabi Musa as. Keterangan ini tersebut dalam firman Allâh pada surat Hud ayat 17.
c. untuk menjadi cahaya (nur) yang mampu menerangi kegelapan alam pikir manusia hingga mereka mampu melihat kebenaran dan menyingkirkan kebatilan. Fungsi ini tersurat dalam surat al-Nisa` ayat 174.
d. untuk menegur dan memperingatkan manusia agar senantiasa berada pada jalan yang tidak sesat demi menggapai kebahagiaan yang haqiqi, yaitu surga. Fungsi ini sesuai dengan salah satu nama al-Qur`ân, yakni al-Dzikr (الذكر). Bacalah surat al-Ra’d ayat 28, atau surat al-Hijr ayat 9.
e. Untuk memberi dan menyampaikan berita kepada manusia, bahwa setelah kematian ada kehidupan yang abadi. Siapa pun yang berbuat kebajikan di dunia, maka ia niscaya akan memperoleh kesenangan di akhirat, dan barangsiapa berlaku jahat di dunia, niscaya ia akan memperoleh kesengsaraan di akhirat kelak. Fungsi ini dikenal dengan istilah basyir dan nadzir (بشير ونذير). Baca Surat Fushilat ayat 3 dan 4!

Wa Allâhu a’lam bi al-shawâb